Sang Maha Ada

sanurihim ayatina fil afaq wafi anfusihim hatta yatabayyana lahum annahul haq

Keyakinan pada sang pencipta adalah suatu hal yang fitrah, setiap manusia akan merasakan perasaan bahwa dirinya tidak mungkin bisa hadir dengan sendirinya di jagad ini tanpa ada yang menjadikan dan menciptakannya, suku primitif misalnya yang dianggap sebagai manusia yang ummi-pun juga akan merasakan Hal yang sama, Ritual sesaji persembahan yang identik dengan suku ini hanyalah karna mereka berkeyakinan bahwa ada suatu kekuatan Abstrak yang sangat luar biasa berada diluar lingkup indra manusia yang mengatur Jagad ini.

Argumen tentang keberadaan Tuhan sebenarnya bukanlah argumen omong kosong belaka yang tidak dapat dibuktikan sebagaimana sering dituduhkan, tapi dalil kebertuhanan adalah argumen akseptasi yang tak tebantahkan dan dapat diterima secara Umum oleh manusia, oleh karenanya Rasul SAW berdakwah dikalangan dedengkot Qurays bukan karena mereka tidak beriman pada eksistensi Tuhan akan tetapi karna mereka menduakan Tuhan dengan yang lainya dalam Al Quran yang artinya “ dan ketika kalian bertanya kepada mereka, siapakah yang menciptakan langit dan bumi ? maka mereka akan menjawab: Allah “ berangkat dari asumsi inilah mengapa para cendikiawan berpendapat bahwa kebertuhanan adalah fitrah bagi manusia dan itu adalah hal yang tak terbantahkan.

Dalil fitrah merupakan dalil yang secara simpel difahami oleh manusia tanpa melakukan penalaran yang mendalam, seseorang akan dengan sendirinya mengetahui bahwa ia membutuhkan air takala sedang dahaga atau seseorang dengan sendirinya mengetahui bahwa dia membutuhkan makanan bila ia sedang mengalami kelaparan inilah fitrah.

Begitu juga dengan jagat raya alam ini, Seseorang akan berkata bahwa Alam ini membutuhkan pencipta hingga dia bisa terbentuk dan tersusun secara rapi, analoginya bahwa setiap yang ada pasti ada yang mengadakannya. Kursi misalnya dia tidak akan terbentuk dan dapat diduduki kalau tidak ada tukang kursi, begitupula dengan Sepeda Motor dia tidak akan termodifikasi dengan sendirinya dan berjalan tanpa ada montir yang menukangi dan membuatnya. cara berfikir demikian adalah cara berfikir yang simpel dan sesuai akal dan fitrah manusia.

Meskipun demikian, Dalil diatas tidak serta merta akan bisa diterima oleh semua kalangan utamanya mereka yang meyakini bahwa Tuhan itu tidak ada atau para atheis. Orang atheis sekalipun ia meyakini bahwa segala sesuatu akibat pasti ada yang mengakibatkan, namun mereka tidak meyakini adanya sesuatu yang ada diluar alam indra manusia, mereka tidak percaya pada Hal-hal yang sifatnya metafisik [ ghaib ], menurut mereka bahwa segala sesuatu yang ada, haruslah real dan tampak dihadapan kita dia tidak boleh abstrak dan lazim bermateri.

Para ahli melihat, diantara penyebab kaum atheis berkata demikian, dikarenakan mereka berasumsi bahwa akal adalah satu-satunya alat penujuk dalam memecahkan segala sesuatu, padahal akal manusia itu sifatnya terbatas dan juga tidak semua urusan harus dikembalikan pada akal. Filsuf jerman imanuel kant misalnya meyentil para pendewa akal ini dalam bukunya “ naqd alaklu alkhalish ” ia berkata bahwa tak diragukan lagi bahwa akal tidak segalanya mampu mengetahui segala wujud sesuatu, ia hanya bisa mengetahui partikel-partikel yang nampak saja sama seperti dirinya. Sementara wujud yang lebih abstrak dari itu, akal tak mampu menggapainya seperti eksistensi Tuhan, karna yang dibutuhkan untuk mengenal wujud ini hanyalah hati nurani dan bukan Akal...selain Tuhan imanuel kant mencontohkan juga sesuatu yang tidak bisa diraba oleh akal tapi pada tatanan empiris dia bisa dirasakan keberadaannya oleh kita ia berkata ” kerinduan kita terhadap keadilan maka ini menjadi bukti bahwa adil itu ada, begitu juga dahaganya kita pada Air itu menunjukkan bahwa Air itu ada ”.

Kaum atheis Selain menggunakan akal sebagai pijakan berfikir, mereka juga sering menggunakan dalil-dalil Shopis yang sengaja mereka buat untuk mengakal-akali kaum monoteis, menjebak ummat beragama dengan memutar balikkan fakta yang sebenarnya.

Dalam sebuah tulisannya Dr mustafa Mahmud pernah berdialog dengan salah satu tokoh ateis lulusan barat, beliau ditanya kalau misalnya segala sesuatu yang maujud mesti ada penciptanya ( Tuhan ) dan setiap wujud pasti ada yang mengadakannya ( Tuhan ) lalu siapakah yang menciptakan dan mengAdakan Tuhan ? dalil ini kedengarannya lucu dan terasa outentik kalau didengar secara sepintas karna sama-sama menggunakan dalil kuasalitas yang telah saya beberkan sebelumnya, namun bila diteliti dengan cerdas akan kelihatan beberapa kejanggalan-keganjalan didalamnya. Dr Mustafa Mahmud mengomentari pertanyaan ini dengan celotehan yang lebih menggigit ia berkata “Bila Anda meyakini bahwa Tuhan menciptakan segala yang ada, lalu disatu sisi kalian mempertanyakannya lagi siapa yang menciptakan tuhan, maka ini adalah pertanyaan yang sangat Bodoh, mengapa ? karna jikalau sekiranya kita berkata bahwa pencipta itu adalah Tuhan maka secara otomatis dalam akal sehat kita akan berkata bahwa sang Pencipta bukanlah yang dicipta, bila itu terjadi maka sama halnya kita menggabungkan antara dua Hal yang berbeda sekaligus yaitu antara pencipta dan dicipta.

Sebelum Dr Mustafa Mahmud, Aristoteles seorang filsuf masyhur yang hidup sebelum masehi juga memberikan gertakan yang pedis pada mereka yang tertutup hatinya pada kebenaran, dengan menggunakan dalil rentetan sebab akibat, Aristo mencoba menusuk jantung pertahan kaum atheis yang tak bertuhan, meskipun agak kuno tapi dalil ini masih laku dipergunakan dan sering diadopsi oleh para ahli kalam islam utamanya sekte Asyairah dan Maturidiyyah. Aristo berujar kalau setiap sesuatu itu berasal dari sesuatu yang lain maka sesuatu yang lain ini pasti akan berasal dari sesuatu yang lain juga dan sesuatu yang lain ini lagi akan berasal dari sesuatu yang lain lagi dan ini akan terus menerus sampai tak berhujung. Menurut Aristo sesuatu yang tak berhujung ini pasti akan berhenti pada sesuatu yang pertama yang tidak didahului lagi dengan sebab-sebab, dan sebab yang pertama inilah awal muasal dari berbagai sebab sebab yang terjadi, dialah penggerak pertama ( muharrik al awwal ) yang tidak membutuhkan penggerak yang lain lagi, dialah penyebab yang tidak membutuhkan penyebab lain lagi, pencipta yang tak membutuhkan pencipta lain lagi. Inilah yang disebut dengan Tuhan.

Bila dalil fitrah dan akal telah menetapkan keberadaan Tuhan, maka secara tidak dipaksa kita juga harus meyakini keberadaannya, bila seseorang melenceng dari itu berarti dia telah melenceng dari kebenaran fitrah dan akal. Dan juga berbagai fasilitas dalam dirinya memerlukan update ulang dan revolusi buat merenofasi berbagai kerusakan-kerusakan spritual zahir dan batin yang terjadi.

Tuhan telah memberi kita berbagai macam contoh dari alam sekitar kita buat dijadikan rujukan sekaligus renungan atas kuasa dan keberadaan Dia, dan hanya orang-orang yang bodohlah yang tidak merasakan keberadaan Tuhan dan menafikannya. sanurihim ayatina fil afaq wafi anfusihim hatta yatabayyana lahum annahul haq.

Penulis : Wawan. ~ Sebuah blog yang menyediakan berbagai macam informasi

Artikel Sang Maha Ada ini dipublish oleh Wawan. pada hari Jumat, 05 Agustus 2011. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.Terimakasih atas kunjungan Anda silahkan tinggalkan komentar.sudah ada 0 komentar: di postingan Sang Maha Ada
 

0 komentar:

Poskan Komentar