Ibnu Araby Dan Pluralisme Agama

Pluralisme Agama yang di bahas oleh Ibnu Araby disini berbeda dengan pluralisme Agama yang di tawarkan oleh kaum Liberal di Indonesia, wihdatul adyan dalam konsep Ibnu Araby mengharuskan seseorang terlebih dahulu melebur bersama hubbul ilahy dan Aesthetikanya, seseorang harus terlebih dahulu melakukan meditasi, dan menghilangkan segala noda dosa yang membandel dari tubuhnya, ia juga harus mensucikan seluruh jagad ini dari segala macam ilustrasi maujud dan memanunggalkan wujud yang hakiki. Yaitu pemilik wujud mutlak Allah ta’ala.

Mungkin pembahasan ini agak sedikit liar dalam dunia mistik Islam dan sangat berbahaya bagi aqidah sebahagian kalangan, dan tidak sembarang orang yang mampu untuk ikut nimbrung berdemosntrasi didalamnya, kecuali mereka-mereka yang telah mencapai tingkatan tertinggi dalam ilmu Tasawwuf.

Faham wihdatul adyan Ibnu Araby ini nantinya membawa pelaku eksperimennya mengakui seluruh Agama yang ada, bukan hanya Agama samawi hingga Agama Pagan-pun akan ia ikuti, sangking liarnya pemahaman ini, seseorang tidak akan sanggup nantinya membedakan yang mana Tuhan dan yang mana makhluk-nya.

Hubungan Antara Wihdatul adyan Dan Wihdatul Wujud.

Menurut Ibnu Araby bahwa ciri-ciri dari seseorang yang arif sejati adalah tatkala ia meyakini seluruh keyakinan yang ada dan menyembah pada seluruh penjelmaan Allah di alam ini, Karena menurut dia bahwa seluruh jagat raya ini merupakan tajalliyat Allah ta’ala, pernyataan Ibnu Araby ini tertuang dalam bukunya tajalliyat, ia menegaskan bahwa seorang arif yang sempurnah “ adalah orang yang melihat semua sesembahan yang ada di alam ini merupakan penjelmaan ( tajally ) dari Allah yang di sembah, oleh karenanya kita menamai semua sesembahan yang ada itu dengan Tuhan, hanya saja diantara sesembahan tersebut mempunya nama khas tersendiri seperti batu, pohon, hewan, manusia, bintang ataupun malaikat, dan semua itu hanyalah nama khas mereka saja “ [1]

Jadi sebenarnya Tuhan itu menyebar disetiap penampakan yang ada di alam ini, maka dari sini menunjukkan bahwa Ibnu Araby meyakini semua keyakinan yang di yakini oleh setiap manusia itu tidaklah salah, karena pada hakekatnya Tuhan yang ia sembah adalah Tuhan yang kita sembah juga, hanya saja Tuhan yang mereka sembah mempunya nama sendiri, tapi itu bukanlah masalah yang serius buat Ibnu Araby karena perbedaan nama bukanlah permasalahan yang fundamental selama esensinya itu masih tetap sama, itu tak jauh beda menurut Ibnu Araby dengan perbedaan nama-nama Allah seperti al qadir, al alim, al khalik, ar-razik. Secara lafadz dan makna memang berbeda tetapi pada hakekatnya itu adalah satu.

Begitupun seluruh ilustrasi-ilustrasi yang muncul dan bertebaran di alam ini pada hakekatnya adalah Satu , karena sebagaimana yang dinyatakan oleh Ibnu Araby sebelumnya bahwa seluruh alam ini adalah Tuhan, oleh karenanya setiap apapun yang di sembah oleh seorang abid maka pada hakekatnya dia menyembah Allah yang ber-tajally pada setiap nama-nama yang mereka sembah, dan seluruh keyakinan dalam bentuk ini adalah benar, karena tidak ada yang mereka sembah itu hanyalah zat Allah dan sifatnya, dan semua ilustrasi sembahan itu pada hakekatnya adalah satu, hanya saja penisbahan dan jalurnya saja yang berbeda.[2]

Ibnu Araby menambahkan dalam futuhat-nya bahwa seorang arif yang hakiki adalah mereka yang mengatakan dan meyakini adanya wihdatul adyan, dan ia tidak boleh mengatakan dalam dirinya bahwa dia memeluk satu Agama saja, karena seorang arif sejati dia akan melihat bahwa seluruh ilustrasi yang ada di sekitarnya ini merupakan Allah.[3]

Bahkan Ibnu Araby dengan berani mengejek seorang arif yang tidak meyakini adanya wihdatul adyan karena pada hakekatnya ia tidak mengetahui permasalahan sebenarnya, ia sebenarnya tidak mengenal Allah kecuali hanya secuil saja dan ia akan selalu mengingkari tajally Tuhan pada yang lainnya, arif yang munkir ini akan selalu di kekang oleh doktrin piciknya dan akan selalu meyakini keyakinannya saja tampa meyakini keyakinan yang lainnya.[4] Menurut Ibnu Araby seandainya saja mereka mengetahui dengan benar pemahaman wihdatul adyan ini maka ia tidak akan mengingkari seluruh ilustrasi-ilustrasi penjelmaan Tuhan.

Dari sini maka akan jelaslah bahwa keyakinan wihdatul wujud Ibnu Araby akan menelorkan pemahaman wihdatul adyan, karena wihdatul wujud itu akan mengisyaratkan seluruh jagat raya ini merupakan penjelmaan Tuhan, dan bila Tuhan telah menjelma ( baca : tajally ) pada ilustrasinya ( baca : makhluk-nya ) maka apapun yang ia sembah di alam ini adalah pada hakekatnya adalah Tuhan juga.

Oleh karena semua yang ada ini adalah Tuhan, maka setiap orang tidak akan boleh disalahkan apabila dia mengatakan bahwa dirinya adalah Tuhan, maka tak heran sebahagian sufi yang telah berkeyakinan seperti ini akan mengatakan pada dirinya sendiri “ subuhany, subuhany, subuhany ” maha suci saya, maha suci saya, maha suci saya. Atau mengatakan ana al haq. Saya adalah Tuhan.

Menurut DR. Ahmad Mahmud Al Jazzar. Bahwa pemahaman Ibnu Araby tentang wihdatul adyan ini sangatlah dipengaruhi oleh pemikiran pluralisme Agama Al Hallaj, karena di dalam sejarah Tasawwuf Islam menegaskan bahwa Al Hallaj-lah mistikus Islam yang paling pertama kali memperkenalkan faham wihdatul adyan ini dalam sejarah mistik Islam secara khusus dan pemikiran Islam secara umum. Dan eksperimen ini di lakukan oleh Al Hallaj tatkala ia menjelaskan tentang hakikat muhammadiyah dan qidam-nya nur Muhammad.[5] Menurut Al Hallaj bahwa seluruh Agama-Agama adalah masdar-nya satu, semuanya adalah sama meskipun nama dan laqab-nya saja yang berbeda. Semua maksud Agama itu satu dan tidak akan berubah.[6] Iapun banyak menulis syair tentang faham wihdatul adyan diantaranya.

Aqada al khalaiqu fil ilahi aqaaidan

Wa ana I’taqadtu jamiy’a ma I’taqaduhu

Selain terpengaruh oleh Al Hallaj, Ibnu Araby juga menggunakan argumen-argumen nash qurany, diantaranya ayat 23 dari surah Al isra yang artinya “ Dan Tuhanmu memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia ” ia memaknainya dengan bahwa Tuhan telah memerintahkan semua sembahan yang disembah oleh hamba menjadi ilustrasi Tuhan, bahkan ilustrasi itu adalah Tuhan sendiri.[7]

Tidak sampai disitu saja, ia juga banyak menggunakan argument dari hadits-hadits Rasul Ibnu Araby menegaskan bahwa barangsiapa yang telah mengetahui sabda Rasul “ seseungguhnya Allah telah menciptakan adam dari gambarannya ( ilustrasinya ),” dan juga mengetahui sabda Rasul “ barangsiapa yang mengetahui dirinya maka dia telah mengetahui Tuhanannya ” dan firman Allah dalam surah fussilat ayat 56 “ kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kami dari segenap ufuk dan pada diti mereka sendiri “ maka ia sebenarnya telah melihat Tuhannya, dan melihat Tuhan disini maksudnya adalah wihdatul adyan.[8]


[1] Ibnu Araby “ kitab tajalliyat” jilid 2 hal 43

[2] Ibnu Araby “ al ahadiyah” jilid 1 hal 5

[3] Ibnu Araby “Futuhatul makiy “ jilid 3 hal 132.

[4] Ibid

[5] .DR Ahmad Mahmud Al Jazzar Al fana wal hubbul ilahy inda Ibnu Araby ” hal : 264

[6]Akhbar Al Hallaj ” hal : 39

[7] Ibnu Araby “ masail ad daqaiq fi ilmi haqaiq – makhtutat – lembaran ke 3. di nukil dari DR Ahmad Mahmud Al Jazzar Al fana wal hubbul ilahy inda Ibnu Araby ” hal : 266

[8] DR Ahmad Mahmud Al Jazzar Al fana wal hubbul ilahy inda Ibnu Araby ” hal : 267

Penulis : Wawan. ~ Sebuah blog yang menyediakan berbagai macam informasi

Artikel Ibnu Araby Dan Pluralisme Agama ini dipublish oleh Wawan. pada hari Senin, 24 Januari 2011. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.Terimakasih atas kunjungan Anda silahkan tinggalkan komentar.sudah ada 0 komentar: di postingan Ibnu Araby Dan Pluralisme Agama
 

0 komentar:

Poskan Komentar