Mengupas Sedikit Sejarah An-nushairiyyah

An-nushairiyyah, adalah salah satu kelompok Syiah sempalan dalam Islam, meskipun dia pada mulanya berafiliasi dengan Syiah itsna Al-as'ariyyah namun mereka sering digolongkan sebagai kaum yang heretik, Pada awalnya aliran ini didirikan pertama kali oleh Abu Syu'aib Muhammad bin Nusair Al-'abdy Al-bakry annumairy Al-basry, dia hidup pada tahun ke tiga Hijriah sezaman dengan tiga tokoh spiritual Syiah, yaitu Ali Al-hady Al-askary (Imam ke sepuluh) Hasan Al-askary (Imam ke sebelas) dan Imam ketiga belas Muhammad Al-Mahdi, yang dari dulu sampai sekarang belum ada Wujudnya.

Sejarah kemunculan An-nusairiyyah penuh dengan lika-liku. diawali dari perbedaan pendapat kelompok Syiah pasca mangkatnya Imam kesebelas mereka Hasan Al-askary. Inti perbedaan mereka adalah mempertanyakan keabsahan Imam ke-duabelas Al-mahdy al-muntadzar, apakah dia anak keturunan Hasan Al-askary atau bukan. Hal ini menjadi wajib bagi madzhab Syiah, Karena selain Imamah merupakan salah satu Rukun Iman mereka, seorang Imam haruslah mempunyi pertalian darah dengan Rasulullah SAW. paling tidak dari perbedaan ini mereka terbagi menjadi empat belas sekte, dari semua sekte yang berbeda mayoritas menolak Al-mahdi adalah keturunan langsung dari Hasan Al-askary kecuali Tiga sekte saja yang menerima. Dari Ketiga sekte yang menerima inipun mereka berbeda pendapat lagi tentang awal mula dan kelahiran almahdi, ada yang berpendapat Imam al mahdi lahir sebelum ayahnya Al-askary meninggal ada juga yang mengatakan sesudahnya, Syiah itsna asyariyyah yang termasuk ketiga golongan ini mencoba mengkolerasikan kedua pendapat diatas namun gagal, akhirnya mayoritas merekapun menerima pendapat yang pertama yang mengatakan bahwa al-mahdi lahir dua tahun sebelum Imam Al-askary meninggal. Dari sinilah munculnya golongan Syiah Itsna 'asyariyyah.

Pasca gahib-nya Imam al-mahdy dan menunggunya sampai dia datang kembali, maka keImamahan tidak boleh kosong, untuk itu perlu diangkat Imam sebagai wakil agar mengisi kekosongan tadi, Imam inilah yang di jadikan referensi nantinya sampai munculnya kembali Imam ke dua belas Al-mahdy al-muntadzar. Menurut keyakinan Syiah setiap Imam haruslah mempunyai Pintu (al-bab), sebagaimana Ali RA. merupakan pintu Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadits dinyatakan "man thalabal ilma fa'alaihi bil babi. Wa ana madinatul ilm, wa aliyyu babuha" pintu inilah yang akan menjadi hamzatul wasal antara satu Imam dan Imam yang setelahnya. Dari keseluruhan Imam yang disucikan mereka semua di yakini mempunyai pintu. Untuk lebih spesifiknya lagi kita akan sebutkan pintu dari masing-masing Imam .

1. Ali Ra. Dan pintunya = Salman al farisi. Ra.

2. Hasan Ra. Pintunya = Qays bin waraqah

3. Husain Ra. Pintunya = Rasyid al-hijry

4. Ali zainal abidin. Pintunya = Abdullah alghalib.

5. Muhammad Al-baqir. Pintunya = yahya bin ma'mar bin ummu thawil.

6. Ja'far asshadiq. Pintunya = jabir bin yazid alja'fary

7. Musa al kadzim. Pintunya = Muhammad bin abi zainab al-kahily

8. Ali bin ridha. Pintunya = al mufaddhal bin umar.

9. Muhammad aljawwad. Pintunya = Muhammad bin almufaddhal bin umar.

10. Ali al hady. Pintunya = Umar bin farraat.

11. Hasan al asykary. Pintunya = Abu syu'aib Muhammad bin nushair al bashri annumairy (pendiri Annushairiyyah )

Adapun Imam ke duabelas karena dia adalah Imam yang ghaib dan tidak pernah kelihatan wujud aslinya, maka Syiah pun berbeda pendapat siapakah yang harus menjadi pintunya. menurut Annushairiyyah, karena Imam al-mahdy belum menampakkan jati dirinya di kehidupan nyata maka secara otomatis Abu Syua'aib Muhammad bin Nushair yang merupakan pintu Imam Al-askary menjadi pintu bagi al-mahdy. namun pernyataan ini tidak serta-merta diterima oleh Syiah yang lain, Karena menurut mereka, al-bab bagi Imam ke Sebelas adalah empat orang, yaitu Utsman bin Sa’id Al-‘Amri, Muhammad bin Utsman bin Sa’id, Husain bin Ruh An-Naubakhti, dan Ali bin Muhammad As-Samiri. Karena di tolak akhirnya Abu Syu'aib pun memisahkan diri dan membuat padepokan baru . yang nantinya masyhur dengan nama Annushairiyyah.

Muhammad bin Nushair pun beruzlah menjauhkan diri dari kelompok yang menyebrang dari pendapatanya dan mendirikan madrasah dan halaqah di Samarrah, hingga akhirnya iapun meninggal disana pada tahun 260 H. setelah dia meninggal ilmunyapun di wariskan kepada muridnya Abdullah bin Muhammad Al-janbalany, ia dijadikan pintu masuknya seseorang kedalam Syiah Nushairiyyah, Al-janbaly dikenal sebagai tokoh spiritual nushairiyyah yang ahli dalam berbagai bidang ilmu seperti filsafat dan Tasawwuf, pada zamannya ia mencoba mengkontaminasikan antara tiga faham. Syiah, Muktazilah dan Tasawwuf. Ditanganya pulalah muncul seorang pemuda Mesir yang nantinya meneruskan perjuangan Annushairiyyah.

Adalah Husain bin Hamdan Al-khusaiby, yang merupakan salah satu murid Abdullah bin Muhammad Al-janbalany, tatkala ia berziarah ke Mesir Al-khusaiby banyak menimbah ilmu padanya, iapun masuk dan berbaiat pada gurunya, setelah Al-janbaly meninggal, Al-khusaiby melakukan perjalanan di berbagai tempat spiritual nushairiyyah sambil menimbah ilmu dan mengajarkan ilmu yang ia dapati, iapun berjalan menuju Khursan dan Baghdad, disana ia banyak belajar pada guru besar nushairiyyah hingga iapun diangkat menjadi salah satu diantara mereka ia akhirnya diberi gelar dengan syaiku addin, setelah merasa dirinya telah matang iapun memperbaiki kembali serta menata ulang madzhab Annushairiyyah, tidak hanya itu, Al-khusaiby juga produktif didalam menulis, ia banyak mengarang buku-buku dan salah satu diantara bukunya yang paling fenomenal adalah " al-hidayatul kubra, wa asmaul aimmah wal ikhwan". Menurut Ibnu Hajar. Setelah ia memperdalami ilmu dari beberapa gurunya Al-khusaiby banyak menelorkan berbagai macam pendapat dan dogma yang berpengaruh dalam madzhab Annushairiyyah salah satunya adalah aqidah at-tanasukh wa al-lhulul.

Usaha Al-khusaiby yang telah mengokohkan madzhabnya dan memperbaiki kekurangannya tidaklah sia-sia. Pasca mangkatnya, Annushairy tidak lagi kekurangan guru spiritual, itu terlihat setelah Al-khusaiby meninggal muncullah tokoh-tokoh seperti Muhammad bin Ali Al-ahlaby setelah itu muncul pulalah abu Sa'id Al-maymun At-thabrany, dan kemudian Hasan Al-makzun. Namun setelah Al-makzun meninggal, annushairy kembali melemah dan berpencar-pencar.

DR. sulaiman al-halby berkata, bahwa setelah wafatnya Hasan Al-makdzun, maka Annushairiyyahpun terpencar dan tebagi-bagi di berbagai negri, hingga antara satu dengan lainnya tidak mempunyai ikatan, fenomena ini terjadi karena tiap-tiap dari fihak yang berhamburan telah memiliki syaikh dan guru spiritual masing-masing, namun meskipun demikian ada yang istimewa dari mereka yaitu dimanapun mereka berada mereka berusaha untuk menjadi pemimpin diwilayah yang mereka tempati dan memanfaatkan kelengahan masyarakat disekitarnya, dan inipun akhirnya berdampak besar pada kaum muslimin. utamanya di suriah, disaat kaum muslimin lengah mereka memperbaiki kuda-kuda mereka dan kemudian mengambil alih kekuasan.

Penulis : Wawan. ~ Sebuah blog yang menyediakan berbagai macam informasi

Artikel Mengupas Sedikit Sejarah An-nushairiyyah ini dipublish oleh Wawan. pada hari Minggu, 01 April 2012. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.Terimakasih atas kunjungan Anda silahkan tinggalkan komentar.sudah ada 0 komentar: di postingan Mengupas Sedikit Sejarah An-nushairiyyah
 

0 komentar:

Poskan Komentar