Mazhab Panteisme Ibnu Araby dan Fana'-nya Seseorang Kedalam Interes Ketuhanan

Wihdatul wujud merupakan nilai akhir yang ingin dicapai oleh Ibnu Araby, tetapi sebelum mencapai derajat tersebut Ibnu Araby menjelaskan terlebih dahulu fase yang harus dilewati seseorang pemburu cinta sebelum melebur kedalam jiwa suci Tuhan, salah satu fase yang terpenting dilalui oleh pelaku mistik adalah dia terlebih dahulu fana kedalam cinta ilahy, dan al fana disini bukanlah fana yang secara sempit di fahami kaum sufi klasik sebelum Ibnu Araby yang mengartikan fana dengan hilangnya amal buruk dan tetapnya amal kebaikan, tetapi al fana disini adalah al fana fi hubbul ilahy dimana seseorang menghilangkan seluruh keinginannya kecuali hanya pada al mahbub ( Allah) dan juga menghilangkan seluruh pandangan kita kecuali pandangan pada al mahbub. Dan pada akhirnya seorang mistikus nantinya sampai pada titik akhir yaitu dimana ia menghilangkan segala apa yang ada di alam ini kecuali al mahbub ( Allah ). Pada argument ini Ibnu Araby selalu menggunakan dalil kalam ilahy “ semuanya akan sirnah dan yang kekal hanyalah wajah Tuhanmu ”[1]

Setelah seseorang telah me-nafi-kan ( baca : fana) segala sesuatu yang ada di alam ini dan menetapkan ( baca : baqa) bahwa tidak ada yang ada hanyalah al haq saja, maka pada fase inilah seseorang tersebut telah mencapai puncak wihdatul wujud dan dia telah melebur kedalam cinta ilahy.[2]

jadi kecintaan yang penuh pada al mahbub ( Al fana fil hubby ilahy ) menurut Ibnu Araby bukanlah puncak dari segalanya, akan tetapi puncak dari segalanya adalah tatkala seseorang tersebut melebur ( fana ) kedalam cinta yang sangat kepada ilahy dan bersatu bersamanya, dan inilah ittihad derajat yang paling tertinggi dalam mistiknya, yaitu tatkala sang pencinta hancur lebur kedalam jiwa yang dicintai ( al haq ta’ala). Dan inilah makna dari misteri ungkapan Syaikhul Akbarana man ahwa wa man ahwa ana[3]

Apabila mustawa mistis yang telah dicapai seseorang itu telah mencapai pada klimaksnya, maka seseorang tersebut akan menjadi manusia yang sempurnah, sempurnah disini dalam artian bahwa seluruh perbuatan yang ia lakukan telah mencapai derajat al haq. Karasteristik al haq sudah merasuk kedalam diri seseorang tersebut dan dia memang berhak untuk mendapatkannya, argument ini dimunculkan berkat hasil dari intrepretasi Ibnu Araby bahwa Allah menciptakan manusia dari ilustrasi ( gambaran ) dirinya sendiri dan inilah yang disebut oleh Ibnu Araby dengan wihdatul wujud.

Ibnu Araby menjelaskannya dalam kitab masailnya “ sifat-sifat al haq ( Tuhan ) akan saling mengisi dengan sifat makhluk, dan dengan itu kita ( baca : makhluk) akan digelari dengan karesteristik Tuhan seperti al kamal, al hayah, al ilm, al qudrah, al iradah dan semua sifat Tuhan lainnya, dan ia pun ( baca : Allah ) mensifati dirinya dengan sifat yang kita miliki seperti al ain dan al yad, apabila saling-masuknya ( at-tadakhul ) sifat kita dan sifat Allah telah jelas, maka pada waktu itu kitapun menjelma bersamanya ( Ittihad bersama Tuhan ) dan dalam situasi sepeti ini maka iapun berkata ana man ahwa wa man ahwa ana.[4]

Dari sini kita bisa berkesimpulan bahwa al ittihad yang ingin dijelaskan oleh Ibnu Araby adalah ittihad yang mempunyai kolerasi yang harus dengan al hub ia merupakan konsukwensi logis bagi setiap interes manusia dan juga menegaskan bahwa manusia merupakan makhluk yang di ciptakan dari ilustrasi Tuhan ( al makhluk ala as surati al ilahiyyah ) dan inilah tujuan dari interes manusia pada Allah yaitu tatkala manusia bersatu bersama Tuhannya dan pada waktu pencinta itu telah menjadi yang dicinta dan yang dicinta menjadi pencinta.

Lalu yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana Ibnu Araby bisa menunggalkan seluruh jagat raya ini menjadi satu ? bukankah jagat raya ini banyak ? disinilah nantinya Ibnu Araby menelorkan sebuah mustalahat yang ia sebut dengan wihdatul syuhud, jadi penunggalan semua alam ini menurut dia adalah menunggalkan penglihatan pada keberadaan satu yang mutlak, karena dialah sumber hakiki dari semua keberadaan yang ada di jagat raya ini. Hal ini ditegaskan oleh Ibnu Araby dalam bukunya al jalalah, bahwa “ tidak ada keberadaan ( maujud ) kecuali keberadaan yang satu, dan sesuatu yang ada dengannya itu akan hilang dengan sendirinya, lalu bagaimana dengan yang ada dengannya dan hilang dengan sendirinya itu bisa besatu ( dengan ada selamanya dan tidak pernah hilang. pen.. )…… jadi penunggalannya ( ittihad ) itu hanya dengan lewat menyaksikan keberadaan al haq yang mutlak tunggal dan maha sempurnah.( syuhud al wujud al haq al wahid al mutlaq al kamil )[5]

Dari nash Ibnu Araby diatas menjelaskan bahwa al fana juga merupakan konsukuensi logis dari ittihad, dan ia tak dapat dipisahkan, al fana akan selalu berdiri pada penunggalan dan bukan pada reinkernasi.

Dan padawaktu bersatunya pecinta pada yang dicintainya, maka sang pecinta itupun akan menjadi fana dan pada waktu yang sama ia hanya menyaksikan keberadaan yang satu , dan inilah wujud yang sebenarnya, wujud al haq dan bukan wujud yang lainnya. Dan ini di goreskan oleh Ibnu Araby dalam syairnya :

Jika ada yang bertanya apa penyebab banyaknya sesuatu dan selainnya

Maka katakanlah itu merupakan tajally tuhan pada ilustrasinya

Dan mata ini tidak akan melihat kecuali hanya satu selamanya.[6]



[1]DR. Ahmad Mahmud Al Jazzar Al fana wal hubbul ilahy inda Ibnu Araby ” hal : 207

[2] Ibid

[3] Ibid : 208

[4] Ibnu Araby “ kitab masail” hal : 29-30

[5] Ibnu Araby “ kitab al jalalah” makhtutat no 1451 dar el kotob al masriyyah, di nukuil dari kitab DR. Ahmad Mahmud Al Jazzar “Al fana wal hubbul ilahy inda Ibnu Araby ” hal : 214

[6] Ibnu Araby “ diwan” hal 80

Penulis : Wawan. ~ Sebuah blog yang menyediakan berbagai macam informasi

Artikel Mazhab Panteisme Ibnu Araby dan Fana'-nya Seseorang Kedalam Interes Ketuhanan ini dipublish oleh Wawan. pada hari Senin, 24 Januari 2011. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.Terimakasih atas kunjungan Anda silahkan tinggalkan komentar.sudah ada 0 komentar: di postingan Mazhab Panteisme Ibnu Araby dan Fana'-nya Seseorang Kedalam Interes Ketuhanan
 

0 komentar:

Poskan Komentar